Harga emas dunia diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif pada pekan depan. Pada Jumat lalu, harga emas naik tipis 0,1 persen ke level USD4.052,78 per troy ons, setelah sebelumnya sempat merosot sekitar 2 persen. Pergerakan ini terjadi seiring penurunan harga minyak mentah Brent dari level di atas USD100 per barel.
Investor kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap inflasi, menjelang keputusan suku bunga Amerika Serikat pada pekan depan.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, jika harga emas terkoreksi, support pertama diperkirakan berada di USD3.968 per troy ons, dengan logam mulia di Rp2.592.000 per gram. "Apabila terkoreksi kembali, support kedua di USD3.871 per troy ons, dan logam mulia di Rp2.440.000 per gram," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).
Meski demikian, Ibrahim masih melihat peluang kenaikan. Jika terjadi, resisten pertama diperkirakan di USD4.148 per troy ons dengan logam mulia di Rp2.628.530 per gram. Jika lanjut menguat, resisten kedua di USD4.240 per troy ons dan logam mulia di Rp2.740.000 per gram.
Ibrahim merinci sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan emas. Pertama, faktor geopolitik: perang di Timur Tengah meluas, dengan Houthi menyerang bandara di Arab Saudi dan Ukraina menyerang kapal berisi persenjataan Rusia ke Iran di Laut Kaspia.
Kedua, Amerika Serikat mengumumkan kebijakan tarif baru berkisar 10-12,5 persen terhadap barang impor dari 60 negara mitra, termasuk Eropa, China, dan India. Kebijakan ini mencakup sekitar 99,4 persen dari total nilai impor AS. "Ini yang kemungkinan besar akan memanaskan situasi di luar geopolitik," ujar Ibrahim.
Ketiga, kebijakan Bank Sentral AS (The Fed). Pekan depan, The Fed akan menggelar pertemuan di tengah kenaikan harga minyak yang terus berlanjut. "Hal ini akan mengangkat isu inflasi. Inflasi tinggi berarti akan membuat Bank Sentral AS pertahankan suku bunga," jelas Ibrahim.
Artikel Terkait
Harga Emas Tembus Level Tertinggi, Saham Emiten Emas Berpesta
Prajurit Wanita di USS Boxer Dikabarkan Kekurangan Pembalut, Angkatan Laut AS Membantah
Dolar AS Berpotensi Menguat, Rupiah Dibayangi Tekanan Eksternal
Timur Tengah Terjebak Perang Atrisi, AS dan Israel Hadapi Kebuntuan Strategis