Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, neraca perdagangan Indonesia masih kokoh di zona hijau. Untuk bulan Desember 2025 saja, surplusnya mencapai USD 2,51 miliar. Angka ini melanjutkan tren positif yang sudah berlangsung cukup lama.
Kalau dirunut, Indonesia ternyata sudah mencatatkan surplus perdagangan selama 68 bulan berturut-turut. Rentang waktu yang panjang itu dimulai sejak Mei 2020. Secara kumulatif, sepanjang 2025 surplusnya membengkak jadi USD 41,05 miliar. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang 'hanya' USD 31,33 miliar artinya ada kenaikan hampir sepuluh miliar dolar.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, membenarkan hal itu dalam jumpa pers di kantor pusat BPS, Senin (2/1).
"Pada Desember 2025 neraca perdagangan masih mencatatkan surplus sebesar USD 2,51 miliar," ujarnya.
Bagaimana dengan ekspor?
Di sisi lain, kinerja ekspor juga cukup menggembirakan. Ateng menjelaskan, nilai ekspor pada Desember 2025 tercatat USD 26,35 miliar. Angka itu naik 11,64 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.
Pendorong utamanya datang dari sektor nonmigas, yang melesat 13,72 persen menjadi USD 25,09 miliar. Sayangnya, ekspor migas justru merosot cukup dalam, turun 18,14 persen menjadi USD 1,26 miliar. Secara keseluruhan sepanjang tahun, total ekspor kita naik 6,15 persen. Dari USD 266,53 miliar di 2024, menjadi USD 282,91 miliar di 2025.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak