Nama Sultan Hasanuddin tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga hidup di tengah kota Makassar melalui Jalan Sultan Hasanuddin, ruas sepanjang sekitar satu kilometer yang membentang dari kawasan SMA Katolik Rajawali hingga Taman Macan. Jalan ini menjadi salah satu akses menuju Pantai Losari dan dipadati berbagai aktivitas perdagangan, termasuk Gelael Supermarket yang telah berdiri sejak 1970.
Di balik nama jalan tersebut tersimpan kisah perjuangan Raja Gowa ke-16 yang berani menentang monopoli dagang VOC. Keberaniannya membuat Belanda menjulukinya De Haantjes van Het Oosten, Ayam Jantan dari Timur.
Putra Sultan Gowa yang Dipersiapkan Memimpin
Sultan Hasanuddin lahir di Makassar pada 12 Januari 1631 dengan nama I Mallombassi Daeng Mattawang Muhammad Bakir Karaeng Bontomangape. Ia adalah putra Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15, dan I Sabbe Lokmo Daeng Takuntu. Sejak kecil, ia akrab dengan lingkungan kerajaan dan mendapat pendidikan agama di Masjid Bontoala. Ia juga sering diajak ayahnya menghadiri pertemuan penting, yang membentuknya memahami politik, diplomasi, dan strategi.
Selain urusan pemerintahan, Hasanuddin dikenal pandai berdagang dan membangun jaringan dengan pedagang dari berbagai daerah, termasuk orang asing yang datang ke Makassar. Pada usia sekitar 21 tahun, ia mulai dipercaya menangani urusan pertahanan kerajaan. Setelah Sultan Malikussaid wafat, ia mengambil alih pemerintahan.
Terdapat perbedaan catatan mengenai tahun pengangkatannya sebagai raja. Ada yang menyebut 1653, saat usianya sekitar 22 tahun, sementara sumber lain menyebut 1655. Berdasarkan kajian BRIN, Hasanuddin memerintah Gowa pada 1653-1670. Dalam menjalankan pemerintahan, ia mendapat bimbingan dari Karaeng Pattingaloang, mangkubumi Kesultanan Gowa.
Menolak Monopoli VOC
Pada masa kekuasaannya, Gowa berada di posisi strategis sebagai kekuatan maritim dan pusat perdagangan di kawasan timur Nusantara. VOC berusaha mengendalikan perdagangan rempah-rempah dengan sistem monopoli, yang bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas yang dijunjung Gowa. Sultan Hasanuddin menolak tuntutan tersebut, dan kebebasan berdagang di laut lepas tetap menjadi garis kebijakan kerajaan.
Penolakan itu memicu konflik terbuka. VOC menyerang Makassar pada 1660, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Konflik kembali membesar pada 1667 ketika pasukan VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman datang bersama sekutunya. Setelah rangkaian pertempuran, Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Perjanjian itu sangat merugikan Gowa, namun perlawanan tidak serta-merta berhenti. Gowa kembali mengangkat senjata hingga VOC dan sekutunya berhasil menguasai Benteng Somba Opu pada 24 Juni 1669.
Perang Makassar mengubah peta kekuasaan di Sulawesi Selatan. Perjanjian Bungaya menjadi penanda kekalahan Gowa dan membawa perubahan besar bagi posisi politik kerajaan. Sultan Hasanuddin wafat pada 12 Juni 1670 dalam usia 39 tahun.
Makam di Bukit Tamalate
Jenazah Sultan Hasanuddin dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Gowa, Jalan Palantikang, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Kompleks yang berada di puncak Bukit Tamalate ini menjadi tempat peristirahatan sejumlah raja Gowa. Data pemerintah Kabupaten Gowa menyebut terdapat 24 situs pemakaman di kompleks tersebut, termasuk makam Sultan Hasanuddin dan Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 yang pertama memeluk Islam.
Di sekitar kompleks terdapat Batu Pallantikang yang berkaitan dengan tradisi pelantikan raja-raja Gowa, serta Masjid Tua Al-Hilal Katangka yang dikenal sebagai masjid tertua di Sulawesi Selatan. Masjid ini dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Alauddin pada awal abad ke-17, dengan tahun 1603 tercantum sebagai tahun pendiriannya.
Nama Jalan di Pusat Makassar
Nama Sultan Hasanuddin banyak digunakan di berbagai ruang publik Indonesia, mulai dari Universitas Hasanuddin, Kodam XIV/Hasanuddin, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, taman, hingga kapal perang KRI Hasanuddin. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973 atas jasa dan perjuangannya mempertahankan Gowa dari tekanan Belanda.
Di Makassar, jejak penghormatan juga hadir melalui patung-patung di Benteng Rotterdam, kawasan Pantai Losari, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, dan sekitar kompleks pemakamannya di Gowa. Namun, wajah pada patung-patung tersebut bukan hasil dokumentasi visual asli. Tidak ada gambar atau lukisan asli Sultan Hasanuddin yang tersisa, sehingga wajahnya merupakan interpretasi seni.
Jalan Sultan Hasanuddin sendiri membawa namanya ke tengah aktivitas kota. Ruas sepanjang sekitar satu kilometer ini mengarah ke Pantai Losari dan berakhir di Taman Macan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat Taman Macan menyimpan monumen perjuangan pemuda Makassar melawan kolonial Belanda, didirikan pada 1985 dan memuat nama tokoh serta wilayah gerakan Laskar Harimau Indonesia. Di ruas yang sama, Gelael Supermarket menjadi penanda aktivitas perdagangan modern sejak 1970.
Sebuah foto dari tahun 1985 menunjukkan seorang pria berpose dengan latar Gelael Supermarket dan Kentucky Fried Chicken, menggambarkan kawasan ini telah menjadi bagian dari aktivitas perkotaan Makassar sejak beberapa dekade lalu.