Hamas, kelompok perlawanan Palestina yang lahir pada 1987, memiliki akar ideologis yang kuat dari Ikhwanul Muslimin. Namun, di balik perjuangannya melawan Israel, terdapat perbedaan mendasar dengan Salafi Wahabi yang sering kali menjadi sumber ketegangan. Apa sebenarnya mazhab akidah dan fikih Hamas, serta mengapa mereka kurang disukai oleh kalangan Salafi Wahabi?
Dalam hal akidah, Hamas cenderung mengikuti tradisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya aliran Asy'ariyah dan Maturidiyah. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh Ikhwanul Muslimin yang menjadi induk organisasinya. Sementara itu, dalam masalah fikih, mayoritas anggota Hamas bermazhab Syafi'i, karena tradisi Syafi'iyah memang kuat di Palestina dan sekitarnya. Bahkan, pengaruh tasawuf juga cukup terasa di kalangan Hamas, berbeda dengan Salafi yang cenderung anti-tarekat.
Perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian memicu ketidaksukaan Salafi Wahabi terhadap Hamas. Pertama, dari segi manhaj akidah, Hamas yang Asy'ariyah cenderung melakukan takwil atau tafwidh terhadap ayat-ayat sifat, sementara Salafi Wahabi lebih tekstual dan menganggap Allah berada di atas Arsy secara fisik. Akibatnya, Hamas sering dianggap sebagai ahli bid'ah oleh kalangan Wahabi.
Kedua, dalam praktik ibadah, Hamas terbuka terhadap amalan tradisional seperti maulid Nabi, tahlil, dan doa bersama. Amalan-amalan ini justru ditolak mentah-mentah oleh Salafi Wahabi sebagai bid'ah. Ketiga, perbedaan orientasi politik juga menjadi faktor penting. Hamas fokus pada perlawanan terhadap Israel, sementara sebagian negara yang menganut paham Wahabi justru menjalin hubungan dengan Barat dan Israel demi stabilitas kekuasaan. Hal ini membuat Hamas dianggap sebagai ancaman bagi status quo.
Keempat, konflik ideologis antara Ikhwanul Muslimin dan Wahabi sudah berlangsung lama. Hamas yang merupakan cabang dari Ikhwanul Muslimin mewarisi pandangan politik yang dinamis, sementara Wahabi cenderung mendukung kekuasaan monarki. Perbedaan ini semakin memperkuat ketidaksukaan Salafi Wahabi terhadap Hamas.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Hamas memiliki mazhab akidah Asy'ariyah, fikih Syafi'i, dan tidak menolak tasawuf. Ketidaksukaan Salafi Wahabi terhadap Hamas bukan hanya karena perbedaan teologis, tetapi juga karena perbedaan dalam praktik ibadah dan orientasi politik yang bertolak belakang.