Di tengah rimbunnya hutan adat Knasaimos, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, suara beliung yang menghantam batang pohon sagu bersahut-sahutan. Bagi masyarakat setempat, hutan ini bukan sekadar pemandangan alam, melainkan urat nadi kehidupan. Mereka menyebutnya sebagai "ibu" yang memberi makan sekaligus "bank" yang menjamin masa depan generasi penerus.
Hasil hutan bukan kayu seperti pati sagu, ulat sagu, dan hasil buruan telah menjadi penopang ekonomi warga. Bahkan, dari sanalah biaya pendidikan anak-anak hingga ke jenjang perguruan tinggi berasal.
Sagu dan Hutan: Tapak Lahan Masa Depan
Alfred Kladit, Kepala Kampung Sira sekaligus tokoh masyarakat adat Knasaimos, menegaskan bahwa hutan adat merupakan warisan tak ternilai yang harus dijaga dari ancaman kerusakan dan alih fungsi lahan. Kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak semakin tinggi, dan seluruh biayanya bersumber dari kekayaan hutan yang dikelola secara arif.
Menurut Alfred, pendidikan bagi anak-anak Knasaimos bukan sekadar mengejar gelar, melainkan investasi untuk mempertahankan wilayah adat di masa depan. Dengan lahirnya generasi muda yang terpelajar, tanah dan kearifan lokal diyakini akan tetap terlindungi dari eksploitasi luar.
Peluh Mama-Mama Adat
Perjuangan membiayai pendidikan anak terlihat nyata melalui ketangguhan para perempuan adat. Alfonsina Sagisolo, salah satu perempuan adat Knasaimos, menceritakan rutinitas berat yang dijalaninya demi mengumpulkan rupiah untuk biaya sekolah anaknya.
Sejak pagi, ia berjalan menembus hutan menuju dusun sagu yang disebut nani. Proses panjang dimulai dari menumbuk teras batang sagu, menampungnya di goti, hingga meremasnya dengan air jernih dari sungai. Peluh yang menetes bercampur dengan pati sagu putih yang mengendap di dasar wadah.
"Setiap hari kami masuk hutan untuk ramas sagu dan cari ulat sagu. Hasil dari jual sagu di pasar itu yang kami pakai untuk beli buku, seragam sekolah, biaya kos, sampai bayar uang semester anak yang kuliah di kota. Kalau kami tidak jaga hutan sagu ini, dari mana lagi kami dapat uang untuk anak-anak punya masa depan?" tuturnya.
Bagi Alfonsina dan mama-mama adat lainnya, setiap genggaman pati sagu adalah simbol kasih sayang dan tekad pantang menyerah agar anak-anak Papua tidak tertinggal dalam pendidikan.
Menjaga Wilayah Adat untuk Kedaulatan Pendidikan
Kisah dari Knasaimos menunjukkan eratnya hubungan antara kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pendidikan di Papua. Ketika masyarakat adat memiliki hak penuh atas tanah dan hutan mereka, kemandirian ekonomi dapat tercipta tanpa merusak alam.
Hutan sagu yang tetap tegak bukan hanya menjaga keseimbangan ekosistem global, tetapi juga melahirkan anak-anak Knasaimos yang siap meraih cita-cita dari hasil keringat dan keanekaragaman hayati tanah kelahirannya sendiri.