Dokter: Warna Sperma Bisa Jadi Indikator Awal Kesehatan Reproduksi Pria

- Senin, 18 Mei 2026 | 04:00 WIB
Dokter: Warna Sperma Bisa Jadi Indikator Awal Kesehatan Reproduksi Pria

Kesehatan sperma merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan tingkat kesuburan pada pria. Menariknya, tanda-tanda sperma yang sehat atau tidak sehat dapat dikenali hanya melalui pengamatan langsung terhadap warnanya. Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Andrologi atau reproduksi pria, Jefry Tribowo, yang menjelaskan bahwa warna air mani bisa menjadi indikator awal kondisi kesehatan organ reproduksi pria.

Menurut dr. Jefry, sperma yang sehat pada umumnya memiliki warna putih kental atau putih keabu-abuan. Warna tersebut menandakan bahwa cairan mani masih berada dalam kategori normal. Namun, pria perlu waspada apabila warna sperma berubah menjadi kemerahan atau bahkan kecokelatan, karena kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada organ reproduksi.

"Hati-hati kalau misalnya warna dari air mani ini justru berubah. Salah satu contohnya kalau misalnya warna air maninya ini menjadi kemerahan atau bahkan kecoklatan," ujarnya dalam sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya, Jumat (15/5/2026).

Perubahan warna tersebut, menurut dr. Jefry, dapat terjadi akibat adanya darah yang bercampur di dalam cairan mani. Salah satu penyebab yang cukup sering ditemukan adalah benturan pada area organ reproduksi pria. "Bisa jadi perubahan ke arah warna merah ini disebabkan adanya darah yang tercampur di dalam air mani. Biasanya kalau darah sampai tercampur di dalam air mani, ini bisa disebabkan ada benturan di daerah organ reproduksi," katanya.

Sementara itu, penyebab lain yang lebih serius juga perlu diwaspadai. Infeksi hingga penyakit ganas pada organ reproduksi pria dapat memicu perubahan warna sperma. Karena itu, dr. Jefry mengingatkan agar kondisi ini tidak dianggap sepele. "Sampai juga penyebab-penyebab lain seperti yang paling kita khawatirkan itu ternyata ada keganasan atau bahkan juga infeksi di organ reproduksinya," ujarnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar