Motif Ledakan SMAN 72 Jakarta Terungkap, Didorong Rasa Tidak Suka dan Konten Ekstrem
Polda Metro Jaya berhasil mengungkap perkembangan terbaru dalam kasus ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta. Selain mengamankan sejumlah barang bukti, penyidik juga mulai menemukan titik terang mengenai motif di balik aksi terduga pelaku yang berinisial FN.
Barang Bukti dan Motif Awal Ketidaksukaan
Kombes Pol. Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, mengonfirmasi bahwa sejumlah barang bukti telah disita dari rumah terduga pelaku. Barang bukti tersebut, yang meliputi buku dan dokumen, kini sedang diteliti lebih lanjut oleh Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) untuk dicocokkan dengan kronologi kejadian.
Budi juga menyampaikan temuan awal mengenai motif pelaku. "Dari hasil pemeriksaan sementara, terungkap adanya wujud rasa ketidaksukaan yang disampaikan tidak secara frontal, melainkan melalui tulisan dan gambar-gambaran," ujarnya. Ekspresi ketidaksukaan ini diduga tertuju pada lingkungan kelas atau kakak kelasnya.
Ia menekankan pentingnya peran serta orang tua dan guru dalam mengawasi ekspresi serupa. "Inilah yang kita ajak untuk menggugah kepedulian bersama. Apabila kita cepat dan tanggap membaca tulisan di dinding atau meja, kita mungkin bisa memitigasi dan mengeleminir kejadian yang lebih besar," tambah Budi.
Kondisi Terduga Pelaku Dipindah ke RS Polri
Untuk memastikan penanganan yang optimal, terduga pelaku yang berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) telah dipindahkan ke Rumah Sakit Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.
Pemindahan ini dilakukan untuk memberikan perawatan medis dan psikis yang lebih komprehensif. "Di RS Polri kami sudah membentuk tim terpadu. Pemindahan juga untuk mencegah infeksi dan memudahkan proses penyidikan, mengingat kondisi pelaku sudah mulai membaik dan sadar," jelas Budi Hermanto.
Ditegaskan kembali bahwa karena statusnya sebagai ABH, identitas lengkap pelaku dilindungi oleh undang-undang. Publik diimbau untuk tidak menyebarkan nama asli, alamat, atau identitas keluarganya.
Kebiasaan Akses Konten Ekstrem dan Kekerasan
Temuan lain yang cukup mengkhawatirkan diungkap oleh Densus 88 Antiteror. Berdasarkan penelusuran digital sementara, terduga pelaku diketahui aktif mengakses situs dan komunitas daring yang menampilkan konten ekstrem.
AKBP Mayndra Eka Wardhana, Juru Bicara Densus 88, menyatakan, "Yang bersangkutan kerap mengunjungi forum dan situs gelap yang menampilkan video atau foto orang meninggal dunia akibat kecelakaan, perang, pembunuhan, atau kejadian brutal lainnya."
Kebiasaan mengonsumsi konten kekerasan ini diduga memiliki korelasi dengan motif dan persiapan aksi ledakan yang dilakukannya.
Perkembangan Kasus dan Rilis Resmi Selanjutnya
Polda Metro Jaya berencana menggelar rilis pers resmi untuk memberikan perkembangan yang lebih detail. Rilis tersebut rencananya akan dihadiri oleh perwakilan dari Puslabfor Polri, Jibom Gegana, Dokkes Polri, serta Densus 88 untuk memaparkan analisis mendalam terkait motif ledakan.
Penyelidikan terus dilakukan dengan hati-hati dengan tetap mengedepankan aspek perlindungan terhadap terduga pelaku yang masih di bawah umur, sambil mengumpulkan bukti-bukti pendukung lainnya.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor