Hari Arafah yang jatuh pada 9 Zulhijah 1447 Hijriah, bertepatan dengan Selasa, 26 Mei 2026, menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meraih keberkahan dan ampunan melalui berbagai amalan ibadah. Puncak dari rangkaian ibadah haji ini tidak hanya dirayakan oleh jemaah yang tengah wukuf di Padang Arafah, tetapi juga oleh mereka yang tidak menunaikan haji dengan memperbanyak zikir, doa, dan amalan sunah lainnya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan bahwa Hari Arafah memiliki kemuliaan besar dalam Islam. Dalam laman resminya, MUI mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa doa terbaik adalah doa yang dipanjatkan pada hari tersebut. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini sebagai kesempatan memohon ampunan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT.
Bagi mereka yang tidak sedang berhaji, Hari Arafah identik dengan pelaksanaan puasa sunah. Merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, puasa Arafah memiliki keutamaan luar biasa, yaitu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Selain itu, hari ini juga menjadi momentum untuk memperbanyak amal saleh, membaca takbir, berzikir, hingga mempererat silaturahmi menjelang Hari Raya Iduladha.
Dalam rangka mengisi hari yang penuh berkah ini, MUI dan sejumlah riwayat hadis menganjurkan beberapa bacaan zikir dan doa. Salah satu zikir utama yang dianjurkan adalah kalimat tauhid: “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.” Artinya, tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Selain itu, doa memohon kebaikan dunia dan akhirat juga sangat dianjurkan, yaitu: “Rabbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.” Doa ini bermakna permohonan agar diberikan kebaikan di dunia dan akhirat serta dijauhkan dari siksa api neraka. Tidak ketinggalan, doa singkat untuk memohon ampunan, “Allaahummaghfir lii warhamnii watub ‘alayya,” yang berarti “Ya Allah, ampunilah dosaku, rahmatilah aku, dan terimalah taubatku,” juga menjadi amalan yang dianjurkan.
Umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak istigfar, selawat, serta memanjatkan doa-doa lain yang berisi harapan kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain. Semangat berbagi kebaikan ini juga tercermin dalam tradisi saling mengirimkan ucapan Hari Arafah, baik melalui media sosial maupun pesan pribadi kepada keluarga dan kerabat.
Beberapa contoh ucapan yang dapat dibagikan antara lain: “Selamat Hari Arafah 1447 H. Semoga Allah SWT melimpahkan ampunan untuk kita,” atau “Mari sambut Hari Arafah dengan doa, zikir, dan amal terbaik.” Ucapan-ucapan ini tidak hanya menjadi pengingat untuk meningkatkan ketakwaan, tetapi juga sebagai bentuk syiar kebaikan di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, Hari Arafah menjadi salah satu momen penting menjelang Iduladha yang dipenuhi dengan berbagai amalan utama. Umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan hari tersebut dengan memperbanyak ibadah, doa, zikir, serta menyebarkan ucapan penuh kebaikan kepada sesama, sebagai wujud penghambaan diri dan harapan akan ampunan Ilahi.
Artikel Terkait
Pemprov Banten Raih Opini WTP ke-10 Berturut-Turut, TLRHP Lampaui Target Nasional
Kapal Tanker Minyak Jepang Pertama Berhasil Lintasi Selat Hormuz Sejak Konflik Iran, Bawa Dua Juta Barel Minyak
Kejagung Periksa Mantan Komisioner Ombudsman Yeka Hendra Fatika sebagai Saksi Obstruction of Justice Kasus Korupsi CPO
Bobby Nasution Pastikan Listrik Sumut Pulih 100 Persen, Soroti Dampak Blackout ke Peternakan dan Perikanan