Kisah Pilu Kembar Trenggalek yang Ditinggal Ibu, Kini Bersekolah Gratis di Sekolah Rakyat demi Bantu Ayah Jualan Cimol

- Minggu, 24 Mei 2026 | 15:20 WIB
Kisah Pilu Kembar Trenggalek yang Ditinggal Ibu, Kini Bersekolah Gratis di Sekolah Rakyat demi Bantu Ayah Jualan Cimol

Harapan baru muncul bagi anak-anak yang mengalami krisis keluarga melalui keberadaan Sekolah Rakyat, yang menjadi jembatan bagi mereka untuk tetap optimis mengejar cita-cita di tengah keterbatasan. Dua di antaranya adalah Nur Khusnul Khotimah dan Nur Uswatun Khasanah, gadis kembar asal Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang harus kehilangan kasih sayang seorang ibu sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.

Imah dan Sanah, demikian keduanya akrab disapa, kini memilih menimba ilmu di jenjang sekolah menengah pertama melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 50 Trenggalek. Keputusan itu dinilai paling tepat mengingat kondisi ekonomi keluarga yang tidak menentu. Sang ayah, Agus Sugono, hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan cimol di Alun-Alun Trenggalek dengan penghasilan yang pas-pasan.

Sementara itu, Karyatun, ibu mereka, disebut-sebut bekerja di luar kota dan telah lama tidak berkomunikasi dengan kedua putrinya. “Terakhir ketemu masih kelas 4 SD. Habis itu enggak pernah ketemu lagi,” kata Imah, Minggu (24/5/2026).

Sejak kepergian sang ibu, Imah dan Sanah hanya tinggal bersama ayah dan adik mereka. Menurut pengakuan Imah, sikap ibunya berubah drastis setelah bekerja di luar kota. Tidak hanya berhenti mengirimkan uang untuk kebutuhan keluarga, Karyatun juga disebut bersikap acuh terhadap anak-anaknya. Bahkan, ketika pulang kampung, ia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya di wilayah yang sama tanpa mau menemui kedua putrinya.

Imah dan Sanah sempat berupaya menemui ibu mereka, namun usaha itu berakhir dengan penolakan. “Ibu enggak mau ketemu kita. Terus ibuku tuh katanya ngomong ke orang-orang enggak kenal sama kita. Kita udah dibuang seperti sampah, gitu katanya orang-orang,” ujar Imah dengan suara bergetar.

Meskipun keluarga tidak lagi utuh, kedua remaja itu memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Mereka bertekad bangkit dan bersemangat menyelesaikan pendidikan formal demi masa depan yang lebih baik. Imah dan Sanah memiliki cita-cita yang sama, yakni menjadi pengusaha. Keinginan itu lahir dari kepedulian mereka untuk membantu sang ayah memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

“Kita dari dulu sudah biasa jualan kecil-kecilan, kayak jual risol gitu. Soalnya pengen bantu bapak nyari duit,” ucap Imah.

Kini, kedua gadis itu tengah merajut cita-cita di SRT 50 Trenggalek. Sejak masuk Sekolah Rakyat, mereka mengaku tidak lagi khawatir soal kebutuhan perlengkapan sekolah hingga makanan sehari-hari. “Di sini semuanya sudah disediakan. Aku juga bisa makan enak tiap hari. Senang sekali di Sekolah Rakyat,” tutup Imah.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar