Ancaman "Godzilla El Nino" kembali menggantung di udara. Fenomena yang juga disebut Super El Nino ini diprediksi bakal memicu kekeringan panjang, yang ujung-ujungnya bisa memperparah potensi kebakaran hutan dan lahan. Situasinya cukup mengkhawatirkan, sehingga pakar dari IPB, Bambang Hero Saharjo, mengingatkan semua pihak untuk bersiap dari sekarang. Jangan sampai nanti kabut asap sudah mengepul baru kita kalang kabut.
Secara sederhana, Super El Nino itu terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik tropis memanas ekstrem, minimal 2,7°C di atas normal. Dampaknya? Sirkulasi udara global bisa kacau dan memicu cuaca yang ekstrem di berbagai belahan dunia.
Bambang tidak main-main dengan peringatannya. Saat meninjau langsung titik kebakaran di Bengkalis, Riau bersama Kapolda setempat, Jumat lalu, ia mengingatkan betapa miripnya kondisi sekarang dengan tragedi dua dekade silam.
"Dengan kondisi 2,7°C ini, persis seperti kejadian kebakaran 1997-1998. Waktu itu lahan yang terbakar mencapai 10-11 juta hektare dan korban jiwa sekitar 500 orang,"
Katanya lagi. Di lokasi, ia menyoroti kondisi parit yang airnya sudah di atas 40 centimeter. Padahal, menurutnya, batas amannya harus di bawah angka itu. Ini jadi tanda bahwa kondisi lahan sudah sangat rentan.
Menurut Bambang, ancaman tahun ini butuh mitigasi yang jauh lebih komprehensif. Tanpa itu, karhutla bisa jadi lebih dahsyat.
"Karena makin ke sana akan makin kering. Kita bisa benar-benar kekurangan air,"
Ia menambahkan. Sebuah studi di Nature Communications tahun 2025 juga menggarisbawahi hal serupa: peringatan dini dan langkah proaktif adalah kunci mutlak. Bambang menegaskan, pengawasan harus dipusatkan di wilayah rawan tradisional seperti Sumatera dan Kalimantan, tapi dengan kewaspadaan yang ditingkatkan berlipat. Wilayah lain seperti Nusa Tenggara dan provinsi yang masuk musim kemarau juga tak boleh luput dari pantauan.
Di sisi lain, Bambang melihat secercah harapan dari inisiatif yang digagas Polda Riau. Program Green Policing yang dijalankan Kapolda Irjen Herry Heryawan, berupa aksi penanaman pohon masif, dinilainya sebagai langkah strategis.
"Polda Riau sudah melakukan Green Policing, menanam pohon dan sebagainya. Kebakaran yang terjadi ini harus diimbangi dengan penanaman. Kalau tidak, hitungan emisi kita harus direvisi lagi,"
"Meski kelihatannya cuma aktivitas tanam-menanam biasa, tapi secara ilmiah, itulah cara menekan emisi gas rumah kaca. Kapolda Riau telah melakukan itu,"
ujar Bambang memberi apresiasi.
Kolaborasi Jadi Kunci
Soal kolaborasi ini pula yang ditekankan Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, di kesempatan yang sama. Menurutnya, urusan karhutla mustahil ditangani sendiri-sendiri.
"Kami hadir untuk memberi motivasi dan dorongan. Upaya pemadaman ini komitmen bersama yang melibatkan Polda Riau, Kodam, Pemda, Manggala Agni, MPA, sampai BPBD,"
tegas Herry di lokasi pemadaman.
Ia menjelaskan, di tengah ancaman Super El Nino yang sedang mengintai, pencarian titik api harus dilakukan dengan strategi yang jitu dan sistematis. Tujuannya jelas: mencegah api merembet ke area lain yang masih selamat.
"Kita bergerak bersama mencari titik api secara strategis. Agar tidak terjadi rembetan di tempat lain,"
tutupnya. Kerja sama erat lintas sektor, itulah yang diharapkan bisa menjadi tameng menghadapi godzilla cuaca yang satu ini.
Artikel Terkait
Vinicius Junior Tegaskan Real Madrid Klub Impian, Tak Buru-buru Perpanjang Kontrak
TNI AL Temukan Kandungan Logam Tanah Jarang dan Unsur Radioaktif di 25 Kontainer Ilegal Batam
Pria Tenggelam Saat Cuci Usus Sapi Kurban di Anak Sungai Musi Palembang
Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Tutup Lebih Awal saat Waisak, Pengunjung Hanya Boleh hingga Pelataran