Universitas Widyatama Berdayakan Warga Binaan Lapas Bandung Lewat Ecopreneurship Daur Ulang Plastik

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:12 WIB
Universitas Widyatama Berdayakan Warga Binaan Lapas Bandung Lewat Ecopreneurship Daur Ulang Plastik

Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung, Dr. H. Radea Respati Paramudhita, SH., MH., mengapresiasi kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung. Kegiatan bertema "Ecopreneurship Berbasis Daur Ulang Limbah Plastik Rumah Tangga sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Warga Binaan" ini berlangsung pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Tim PKM diketuai oleh Dr. Rima Rahmayanti, SE., MM, dengan anggota yang terdiri dari Dr. Shinta Oktafien, SE., MM; Pipin Sukandi, SE., MM; Imanirrahma Salsabil, SE., M.Sc; Dr. Nina Nurani, SH., M.Si., CPHCM; Darwis Agustriyana, S.A.B., MM., CHRP; Dwinto Martri Aji Buana; Indra Taruna Anggapradja, SE., MM; Nabila Tri Hapsari Najwar; Isra Detia Haloho; serta Dr. H. Radea Respati Paramudhita, SH., MH., yang juga hadir dalam kapasitasnya sebagai anggota tim sekaligus Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung.

Turut hadir perwakilan Pemerintah Kota Bandung, antara lain dari Sekretariat DPRD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta unsur kewilayahan setempat.

Radea menilai kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam meningkatkan keterampilan, kreativitas, dan kemandirian ekonomi warga binaan, khususnya perempuan, melalui pemanfaatan limbah plastik rumah tangga menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.

Menurutnya, pemberdayaan warga binaan tidak cukup hanya melalui pemberian keterampilan teknis. Diperlukan ekosistem yang mampu menghubungkan proses pelatihan, pengembangan produk, hingga pemasaran, sehingga hasil karya warga binaan dapat memberikan manfaat ekonomi secara nyata.

"Kita tentu sangat mengapresiasi kegiatan ini. Yang diberikan bukan hanya ilmu dan keterampilan, tetapi bagaimana warga binaan dapat melihat bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sampah ternyata bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi," ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep ecopreneurship memiliki manfaat ganda. Pertama, membantu mengurangi timbulan sampah, khususnya limbah plastik rumah tangga. Kedua, membuka peluang ekonomi melalui kreativitas dan keterampilan dalam mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Pendekatan tersebut, kata Radea, sejalan dengan upaya pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga pemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar program serupa tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga binaan.

"Yang paling penting adalah keberlanjutan. Setelah diberikan pelatihan dan menghasilkan produk, harus ada pendampingan berikutnya, termasuk bagaimana produk tersebut dikembangkan, dipromosikan, dan mendapatkan akses pasar," ucapnya.

Dalam konteks tersebut, sinergi dengan Pemerintah Kota Bandung juga dinilai penting, khususnya dalam membuka peluang pemasaran bagi produk hasil karya warga binaan. Kehadiran perwakilan Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian dalam kegiatan ini pun menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan program, mengingat kedua dinas tersebut memiliki peran strategis, baik dalam pengelolaan sampah maupun pembukaan akses pasar bagi produk UMKM.

Pemerintah daerah, menurutnya, dapat berperan sebagai fasilitator dengan mempertemukan produk-produk tersebut dengan berbagai kanal pemasaran, pelaku UMKM, maupun ruang promosi yang tersedia.

Selain aspek ekonomi, kegiatan PKM ini juga memiliki dimensi lingkungan yang kuat. Pemanfaatan limbah plastik rumah tangga diharapkan dapat membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus memberikan nilai tambah melalui pengolahan menjadi produk kreatif.

Sementara dari sisi ekonomi, peningkatan kualitas produk dan akses pemasaran diharapkan dapat memberikan motivasi sekaligus bekal bagi warga binaan untuk membangun kemandirian setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Radea menegaskan bahwa keberhasilan program pemberdayaan warga binaan tidak semata-mata diukur dari jumlah produk yang dihasilkan. Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat dari meningkatnya keterampilan, tumbuhnya kepercayaan diri, serta kesiapan warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

Oleh karena itu, Radea berharap kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Universitas Widyatama, di bawah kepemimpinan Dr. Rima Rahmayanti, SE., MM selaku ketua tim PKM, dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mentransformasikan pengetahuan, kreativitas, dan inovasi menjadi solusi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Aktivitas kolaborasi seperti ini tidak boleh berhenti di sini dan bisa terus disinkronisasikan dengan program Pemerintah Kota Bandung, serta dikembangkan di berbagai wilayah, sehingga ilmu yang dimiliki para dosen dan perguruan tinggi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tutur Radea.

Ia berharap model pemberdayaan berbasis ecopreneurship tersebut dapat terus dikembangkan sebagai salah satu pendekatan dalam membangun kemandirian warga binaan, sekaligus mendukung upaya pengurangan sampah dan penguatan ekonomi masyarakat.

"Ini adalah bentuk pemberdayaan yang sangat terintegrasi. Ada pendidikan, ada keterampilan, ada proses menghasilkan produk, kemudian ada upaya membuka pasar. Kalau seluruh mata rantai ini dapat berjalan dengan baik, maka manfaatnya akan jauh lebih besar bagi warga binaan," pungkasnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terpopuler