Liga Premier Perketat Aturan Pelanggaran Saat Bola Mati

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:30 WIB
Liga Premier Perketat Aturan Pelanggaran Saat Bola Mati

Badan wasit Liga Premier Inggris menginstruksikan para pengadil lapangan untuk menindak tegas aksi saling dorong, tarik, dan peluk antarpemain saat situasi bola mati pada musim kompetisi 2026/2027. Kebijakan baru ini mulai diberlakukan pada laga pembuka yang mempertemukan Arsenal melawan tim promosi Coventry City, Jumat, 20 Agustus 2026.

Pengetatan regulasi ini menyasar tindakan penahanan non-sepak bola yang secara jelas memengaruhi jalannya permainan di dalam kotak penalti. Musim lalu, gol dari situasi bola mati mencapai rekor 25,7 persen dari total gol di Liga Premier. Namun, dari 26 intervensi VAR yang terlewatkan, seperempatnya merupakan pelanggaran saat pemain dijatuhkan di luar perebutan bola.

Fokus utama pelanggaran mencakup pemain yang hanya menatap lawan tanpa melihat bola, tidak berupaya mengejar bola, memegang lawan dengan kedua tangan, serta tindakan memegang pakaian musuh secara intens.

Instruksi Wasit

Kepala Badan Wasit Sepak Bola Inggris (Pro Ref), Howard Webb, meminta para wasit lebih proaktif dan berani mengambil keputusan langsung di lapangan tanpa ragu. "Saya pikir para penggemar dapat berharap untuk melihat lebih sedikit peringatan dari wasit dari yang mungkin mereka lihat sebelumnya, dan saya tahu peringatan itu menjadi sumber frustrasi," kata Webb.

Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan adanya penindakan pelanggaran secara konsisten sepanjang musim bergulir. "Penggemar dapat berharap untuk melihat lebih banyak situasi yang dijatuhi hukuman, tidak hanya pada bulan Agustus atau September, tetapi di sepanjang musim," ujarnya.

Melalui pedoman baru ini, pejabat VAR juga diberikan kewenangan untuk mengecek pelanggaran menyerang saat situasi bola mati dan memerintahkan tendangan ulang jika menghasilkan gol, penalti, atau sanksi disiplin. "Kami mencoba membuat para pejabat percaya diri mungkin untuk menghukum apa yang mereka lihat," kata Webb.

Pengurangan jumlah pelanggaran yang dihukum diharapkan muncul sebagai bentuk penyesuaian perilaku dari para pemain di lapangan. "Jadi lebih sedikit peringatan, lebih banyak aksi yang dihukum, dan jika ada pengurangan pelanggaran yang dihukum, itu harus merupakan hasil dari modifikasi perilaku pemain daripada kami yang tidak lagi menerapkannya," tutur Webb.

Kontak Fisik Tetap Diizinkan

Meskipun penegakan aturan bakal lebih ketat, pihak penyelenggara menekankan bahwa kontak fisik yang wajar tetap diizinkan sebagai bagian dari olahraga. "Kerapatan kontak masih menjadi bagian dari permainan, kami tetap mempertahankan ambang batas yang tinggi," kata Webb. Ia menepis anggapan bahwa semua kontak fisik di area penalti akan langsung membuahkan hukuman pelanggaran secara drastis.

"Saya tidak akan berkomitmen untuk mengatakan kami akan beralih dari sini ke menghukum banyak kontak. Kontak masih menjadi bagian dari permainan," ujar Webb. Kendati demikian, pihak Pro Ref meyakini bahwa langkah pengetatan ini akan membawa dampak positif pada kualitas pertandingan dalam satu tahun ke depan. "Kami masih mempertahankan ambang batas tinggi, tetapi saya membayangkan kita akan duduk di sini pada waktu yang sama tahun depan dan kita akan dapat merenungkan musim di mana lebih banyak pelanggaran telah dihukum," ucap Webb.

Sebelum memulai musim, Pro Ref memberikan materi tayangan klip video ke setiap klub untuk mensosialisasikan bentuk-bentuk pelanggaran baru. Petugas analisis juga memetakan taktik bola mati setiap tim guna membantu posisi pandang wasit di lapangan.

Isu Pembatalan Kartu Merah

Di sisi lain, Webb menanggapi isu pembatalan sanksi kartu merah penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun oleh FIFA setelah gelaran Piala Dunia 2026. Isu tersebut memicu teori konspirasi publik setelah adanya intervensi politik. "Saya sangat terganggu oleh hal itu," kata Webb. Ia menyayangkan intervensi pihak luar yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap integritas keputusan wasit.

"Kita tahu ada tekanan yang diberikan oleh seorang politisi kepada FIFA, karena hal itu diakui," tutur Webb. Proses pembatalan skorsing tersebut dinilai tidak memiliki kejelasan dasar aturan sebelum kompetisi dimulai. "Dan kita tahu bahwa penangguhan itu dicabut untuk turnamen tertentu dan ditangguhkan melalui proses yang sepertinya tidak ada sebelum turnamen dimulai," ujar Webb.

Webb menilai pergeseran sudut pandang publik di media sosial kini makin memperkeruh iklim perwasitan. "Keputusan sebelumnya dipandang benar atau salah, berdasarkan penilaian Anda. Sekarang terlalu sering keputusan dipandang benar atau korup oleh orang-orang yang ingin mengetik di seluruh media sosial," kata Webb.

Selain Liga Premier Inggris, kompetisi domestik Eropa lainnya seperti La Liga Spanyol dan Serie A Italia juga mulai menggelar laga perdana mereka pekan ini.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags