Soto Boyolali Kini Hadir di Madinah, Wujud Impian Berangkatkan Karyawan ke Tanah Suci

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:18 WIB
Soto Boyolali Kini Hadir di Madinah, Wujud Impian Berangkatkan Karyawan ke Tanah Suci

Aroma kuah soto yang gurih kini bisa dinikmati hanya lima menit berjalan kaki dari Masjid Nabawi. Spesial Soto Boyolali (SSB) Hj. Hesti resmi membuka outlet pertamanya di luar negeri, tepatnya di Madinah, Arab Saudi, di Building No. 2648 Abdul Rahman bin Auf. Peresmian direncanakan berlangsung sekitar 20-30 Agustus 2026, menyesuaikan kesiapan tim operasional di lapangan.

Bagi warung soto yang lahir dari dapur rumahan di Boyolali pada 2002, langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa. Ada cerita personal di baliknya.

Direktur Utama SSB Hj. Hesti, Hj. Hesti Noviasari S.Ak., mengungkapkan bahwa pembukaan cabang di Madinah merupakan wujud nyata dari impian besar yang telah direncanakan sejak 2016. "Visi mensejahterakan orang banyak di sini yang utama adalah kami ingin bisa memberangkatkan karyawan kami haji dan atau umrah," ujarnya kepada kumparan.

Dengan adanya outlet di Madinah, karyawan SSB Hj. Hesti dapat bergantian bertugas di sana dalam periode tertentu. Selama masa tugas itulah, mereka berkesempatan menunaikan ibadah haji atau umrah sesuatu yang mungkin sulit terwujud bagi sebagian dari mereka sebelumnya.

Kehadiran SSB Hj. Hesti di Tanah Suci juga menjawab kerinduan para jemaah Indonesia. Banyak pelanggan yang berharap warung soto ini hadir di Arab Saudi, terutama saat mereka beribadah haji atau umrah. Semangkuk soto hangat bisa menjadi pengobat rindu kampung halaman sekaligus membuat jemaah lebih khusyuk beribadah.

Dua Tantangan yang Tak Mudah Dilalui

Membuka restoran di kota suci Madinah bukan perkara mudah. Hesti menyebut ada dua tantangan besar yang harus dihadapi timnya selama persiapan.

Pertama, soal perizinan. Arab Saudi, khususnya Madinah, memiliki aturan yang sangat ketat. Setiap izin operasional dari Baladiyah (pemerintah kota setempat) mensyaratkan kelengkapan berlapis, mulai dari izin pemadam kebakaran, izin CCTV, izin sampah, izin air, hingga izin listrik.

Kedua, standar keamanan pangan atau food safety. "Yang kami ketahui, standar food safety di Arab Saudi khususnya di kota suci Makkah dan Madinah sangat ketat dan sanksi atas pelanggaran juga sangat berat, baik dari sisi denda maupun sampai ancaman penutupan," jelas Hesti.

Untuk memenuhi standar tersebut, seluruh karyawan SSB Hj. Hesti harus menjalani pelatihan ulang secara menyeluruh. Soal distribusi bahan baku, Hesti memastikan timnya sudah melakukan survei dan antisipasi jauh-jauh hari sehingga tidak ada kendala berarti.

Meski beroperasi di negeri orang dengan standar berbeda, cita rasa autentik tetap menjadi harga mati. Menu andalan seperti soto sapi dan soto ayam lengkap dengan lauk pauk khasnya mendoan, sosis solo, sate paru, hingga sate telur puyuh tetap hadir di Madinah. Bahkan, ada menu baru yang belum tersedia di Indonesia, seperti bakso, ayam goreng, dan bakmi godhog. Untuk harga, menu utama dibanderol mulai 15 riyal, sementara menu pendamping mulai dari 3 riyal.

Baru Permulaan, Target Ekspansi ke 5 Negara

Madinah bukan akhir dari perjalanan SSB Hj. Hesti ke kancah internasional. Justru sebaliknya, ini baru langkah pertama dari rencana yang lebih besar. "Target kami adalah akan membuka 4 cabang lagi di negara lain," kata Hesti.

Sejak 2024, SSB Hj. Hesti sebenarnya sudah lebih dulu melayani jemaah haji di beberapa titik hotel di Makkah, sebelum akhirnya memantapkan langkah dengan outlet permanen di Madinah. Dari usaha rumahan bernama Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo pada 2002, kini SSB Hj. Hesti sudah bertransformasi menjadi jaringan warung soto dengan hampir 100 cabang di seluruh Indonesia. Langkahnya ke Madinah menjadi bukti bahwa kuliner khas Boyolali ini siap melangkah lebih jauh ke panggung dunia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags