Latar belakangnya, Telkom sebenarnya sudah menyelesaikan pemisahan hukum (spin-off) InfraNexia sejak Desember 2025 lalu. Proses ini menandai pengalihan sebagian bisnis dan aset di segmen konektivitas fiber grosir dari induknya ke anak perusahaan ini.
Intinya, InfraNexia dibentuk sebagai entitas khusus. Tugasnya mengelola dan mengintegrasikan infrastruktur fiber optik untuk pasar grosir. Mereka menawarkan layanan konektivitas fiber berstandar tinggi, seperti FTTH dan layanan terkelola, yang ditujukan untuk ISP dan operator telekomunikasi lain.
Ke depannya, perusahaan ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi Telkom Group. Bahkan, nilai asetnya diprediksi bisa menyentuh angka Rp90 triliun pada tahun 2026. Sebagai FiberCo, perannya strategis: memaksimalkan penggunaan jaringan fiber grup, menekan biaya operasi, dan menciptakan ekosistem konektivitas yang terbuka serta setara bagi semua pelaku industri.
Jadi, untuk saat ini, membangun fondasi yang kuat lebih diutamakan ketimbang mencari teman bermain. Baru setelah itu, mereka akan melihat peluang kemitraan.
Artikel Terkait
HNW Dorong Diplomasi Haji untuk Perdamaian di Timur Tengah
1.418 Personel Gabungan Disiagakan untuk Arus Mudik Lancar dan Aman di Bogor
Polres Flores Timur Gelar Pasukan, Operasi Ketupat Turangga 2026 Dimulai
Massa Banser Protes dan Bakar Lambang KPK Usai Penahanan Mantan Menag Yaqut