Penyitaan jutaan hektar lahan perkebunan ilegal ini disebutnya sebagai upaya penegakan hukum paling berani bahkan bisa dibilang nekat sepanjang sejarah Indonesia. Tapi, rupanya ini belum selesai.
"Ditambah dengan 4 juta hektar yang sudah disita, upaya kami ini memang yang paling berani. Paling nekad," ucapnya.
Masih ada ratusan perusahaan lain yang mengantre untuk ditindak. Prabowo mengungkap angka yang cukup mengejutkan: 666 perusahaan pelanggar hukum masih dalam pantauan. Untuk menghadapi ini, ia menyatakan tidak akan ada kompromi.
"Sampai saat ini, kami tutup 1.000 tambang ilegal. Tapi staf saya melapor, 'Pak, setidaknya masih ada seribu lagi'. Bisa sampai 666 korporasi yang melanggar. Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Hanya satu: kita harus punya nyali untuk menegakkan hukum. Tidak ada kompromi. Tidak boleh mundur. Rakyat saya menuntut ini, dan kami bertekad melayani mereka dengan jujur. Saya bertekad memegang sumpah, membela konstitusi, dan menegakkan hukum di negeri ini," imbuhnya, menutup pernyataan dengan penuh keyakinan.
Suasana di ruang sidang WEF pasti berubah saat pidato itu bergulir. Dari pembahasan ekonomi global, tiba-tiba terselip gelora politik dalam negeri yang keras dan tanpa tedeng aling-aling.
Artikel Terkait
HNW Dorong Diplomasi Haji untuk Perdamaian di Timur Tengah
1.418 Personel Gabungan Disiagakan untuk Arus Mudik Lancar dan Aman di Bogor
Polres Flores Timur Gelar Pasukan, Operasi Ketupat Turangga 2026 Dimulai
Massa Banser Protes dan Bakar Lambang KPK Usai Penahanan Mantan Menag Yaqut