Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global mendorong harga batu bara termal menembus level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh keterlambatan pengiriman batu bara dari Indonesia, negara yang menyumbang hampir separuh perdagangan batu bara termal internasional.
Analis Commonwealth Bank of Australia, John Oh, menyatakan bahwa Indonesia baru-baru ini mengumumkan kebijakan sentralisasi ekspor. Kebijakan itu, menurut dia, memicu kekhawatiran pasar akan potensi terganggunya pasokan dari negara penghasil utama tersebut.
Akibatnya, kontrak berjangka batu bara Newcastle telah menembus angka 150 dolar AS per ton. Angka itu naik sekitar 16 persen dibandingkan sebulan lalu dan menjadi yang tertinggi sejak pecahnya konflik di Timur Tengah.
Di tengah hambatan pasokan dari Indonesia, pelaku pasar kini mencermati perkembangan permintaan energi global. Oh menilai faktor utama yang perlu diperhatikan adalah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah serta dampaknya terhadap pasar gas alam cair atau LNG.
"Fokus utama pasar tetap pada perkembangan konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar LNG," ujarnya.
Menurut Oh, jika ekspor LNG melalui Selat Hormuz kembali normal, tekanan terhadap pasokan energi dapat mereda. Kondisi itu berpotensi menahan laju kenaikan harga batu bara.
Namun, kebutuhan Eropa untuk mengisi cadangan gas menjelang musim dingin diperkirakan tetap menjadi faktor penopang harga LNG maupun batu bara dalam beberapa bulan mendatang.
Sementara itu, insiden di sebuah tambang di Provinsi Shanxi, China, turut memicu penghentian produksi dan pemeriksaan keselamatan yang lebih ketat di wilayah penghasil batu bara terbesar di negara tersebut. Pengawasan yang lebih intensif diperkirakan membatasi produksi batu bara dalam jangka pendek dan berpotensi memengaruhi pasokan listrik serta upaya China menjaga ketahanan energinya.
Di sisi lain, pasar juga terus memantau dinamika di Timur Tengah. Tarik ulur perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, serta masih terbatasnya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, turut menopang harga energi global, termasuk batu bara termal.
Artikel Terkait
PGUN Kejar Target Free Float 12,5 Persen pada 2027, Siapkan Skema Pelepasan Saham Bertahap
Analis Proyeksi Dividen Spesial AADI Menguat Seiring Kemajuan Divestasi Kestrel, Meski Biaya Operasional Membebani
IHSG Dibuka Menguat 0,05 Persen, Lalu Melesat 1,51 Persen ke Level 5.422
Prospek Cerah, Saham Amman Mineral (AMMN) Diproyeksi Cetak Laba Tertinggi pada 2026