Realitanya, keseimbangan primer malah mencatat defisit Rp35,9 triliun. Sementara itu, beban bunga utang terus membengkak. Defisit pada keseimbangan primer itu mengonfirmasi satu hal: pemerintah masih perlu utang baru untuk menutupi pokok utang lama.
Angkanya cukup mencengangkan. Estimasi pembayaran bunga utang bulan lalu saja sudah mencapai Rp99,8 triliun. Jumlah itu didapat dari selisih antara defisit anggaran (Rp135,7 triliun) dengan defisit keseimbangan primer tadi. Bayangkan, pembayaran bunga sebesar itu sudah menghabiskan 16,64% dari pagu anggaran bunga utang untuk seluruh tahun 2026, yang sebesar Rp599,4 triliun.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, angka ini naik drastis 25,8 persen. Yang lebih memprihatinkan, beban bunga itu setara 28,8% dari total realisasi belanja pemerintah pusat di Februari 2026. Jauh lebih tinggi ketimbang penyerapan anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (Rp44 triliun) atau belanja subsidi dan kompensasi yang cuma Rp51,5 triliun.
Melihat seluruh analisis itu, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Potensi pelemahan masih terbuka. Ia memperkirakan mata uang kita akan bergerak dalam rentang Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya.
Artikel Terkait
MR.D.I.Y Indonesia (MDIY) Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun dan Usul Dividen 40%
IHSG Turun 0,37% ke 7.362,12 Didominasi Tekanan Jual
HAIS Bagikan Dividen Rp26,1 Miliar dari Laba 2025
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.893, Tekanan Eksternal dan Beban Utang Jadi Sorotan