Lalu, bagaimana dengan sentimen dalam negeri? Laporan APBN hingga Februari 2026 menunjukkan kabar baik dari sisi penerimaan. Penerimaan pajak tercatat tumbuh di atas 30%. Penyerapan belanja negara juga melesat 41,9%.
Namun begitu, kalau dilihat lebih dalam, postur anggaran kita masih bermasalah. Realisasinya terkesan 'gali lubang tutup lubang'. Ini tampak dari keseimbangan primer yang malah mencatat defisit Rp35,9 triliun. Beban bunga utang pun semakin membengkak. Defisit pada keseimbangan primer itu mengonfirmasi satu hal: pemerintah masih perlu utang baru untuk menutupi pokok utang lama.
Angkanya cukup mencengangkan. Estimasi pembayaran bunga utang saja di bulan lalu sudah mencapai Rp99,8 triliun. Cara menghitungnya sederhana: selisih antara defisit anggaran (Rp135,7 triliun) dengan defisit keseimbangan primer (Rp35,9 triliun).
Nilai sebesar itu sudah memakan 16,64% dari pagu pembayaran bunga utang sepanjang 2026. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, angka ini naik signifikan, sekitar 25,8%.
Yang lebih memprihatinkan, beban bunga sebesar Rp99,8 triliun itu setara dengan 28,8% dari total realisasi belanja pemerintah pusat di Februari. Bandingkan, misalnya, dengan penyerapan anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru Rp44 triliun, atau belanja subsidi dan kompensasi yang cuma Rp51,5 triliun hingga bulan yang sama. Perbandingannya terasa jomplang.
Melihat semua faktor ini, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Potensi pelemahan masih terbuka. Ia memperkirakan mata uang kita akan bergerak dalam rentang Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya.
Artikel Terkait
MR.D.I.Y Indonesia (MDIY) Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun dan Usul Dividen 40%
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.893, Beban Bunga Utang Membengkak Capai Rp99,8 Triliun
IHSG Turun 0,37% ke 7.362,12 Didominasi Tekanan Jual
HAIS Bagikan Dividen Rp26,1 Miliar dari Laba 2025